Pengalamanku Memelihara Kucing

“Bun, mau pelihara kucing” permintaan itu selalu kulontarkan pada Bunda

“Tanya Ayah sana” hanya itu jawaban Bunda

“Ayah, mau pelihara kucing dong” itu juga yang kuminta pada Ayah saat pergi ke pasar hewan

“Enggak ah, nanti nggak bisa ngerawat. Di rumah kan sudah ada Caca” itu jawaban Ayah

Memang sih, aku sudah memelihara kelinci bernama Caca sejak tahun 2016. Saat itu aku sedang goes bersama Bunda dan sahabatnya ke CFD. disana ada yang menjual kelinci, saat itu aku juga sedang menginginkan peliharaan jadi aku memintanya pada Bunda. Akhirnya aku dibelikan 2 kelinci, untukku dan Kakak. Punyaku bernama Cici, sedangkan Kakak bernama Caca. Hari-hari berlalu aku memelihara Caca dan Cici bersama Kakak. Suatu hari, Cici mati entah apa sebabnya. Aku pun meminta kelinci lagi, dan Bunda pun membelikan di pasar hewan. Sepasang kelinci untukku dan Adikku, aku menamainya Rora dan Renzo, entah darimana aku mengarang nama itu. Saat pertama kali disatukan kandang oleh Caca yang sudah lumayan besar, Rora dan Renzo selalu digigit oleh Caca. Aku sangat takut mereka mati, dan benar saja, beberapa hari kemudian Rora mati menyusul Cici.😢 Setelah kejadian itu, aku meminta bunda untuk memisahkan kandang mereka, tapi tidak dibolehkan. Jadi Renzo tetap bersama Caca. Namun, beberapa bulan setelah Rora mati Renzo menyusulnya.

Setelah semua kelinci mati, tersisa Caca yang bisa dibilang panjang umur hingga 2020 lalu. Hingga, ada seorang teman kantor Ayah yang memiliki kucing dan kucingnya itu memiliki anak. Ayah pun ditawari anak kucing itu, karena aku suka meminta kucing Ayah pun meminta salah satu anak kucing itu.

Tiga bulan berlalu. Ayah bilang kucingnya akan diberikan setelah 3 bulan atau setelah disapih. 

Beberapa hari kemudian, Ayah baru saja pulang kerja. Aku pun juga sedang nonton di atas, setelah memasukkan motor, Ayah berteriak.

“Kak. Ayah bawa kucingnya nih!” teriak Ayah

Spontan saja aku berlari ke bawah meninggalkan tontonanku.

“Mana-mana” teriakku dan Kakak yang sudah berlari ke bawah

“Tuh di motor, lepasin dulu talinya terus kasih minum. Kayanya dia haus” kata Ayah

Aku segera melepaskan tali pengikat keranjangnya lalu menurunkan keranjang tempat kucing. Selesai menurunkan keranjang, aku mengambil minum menggunakan tempat makan burung, sebab aku belum punya tempat makan dan minumnya, jadi aku menggunakan tempat yang bisa kudapat. Selesai dia minum, aku membawanya ke atas karena Bunda ingin melihat. Saat sampai di atas, aku segera membuka keranjangnya dan segera saja ia keluar dan masuk-masuk ke kolong meja.

“Warnanya cuma ini Yah?” tanya Bunda

“Iya, yang lain sudah diminta teman Ayah” jawab Ayah

Kata Bunda, Bunda kurang suka warna bulu kucingku tapi aku sangat suka. 

Malam itu, aku sibuk dengan peliharaan baruku, aku memberinya makan, mencari nama yang cocok, dan lain-lain. Hingga Kakakku memutuskan namanya adalah Chiko. Setelah memasukkannya ke kandang dan menidurkannya, aku pun tidur. 

Keesokan harinya, aku terbangun karena suara Chiko yang kencang. Setelah salat subuh, aku mengeluarkan Chiko dari kandangnya lalu memberinya makan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Narablog Cilik

Hai, aku adalah narablog cilik. Saat ini  masih duduk di sekolah dasar. Blog ini berisi semua cerita dan pengalamanku. 

Baca juga
karyaku
My Hobby
Click Here
Slide 2 Heading
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipiscing elit dolor
Click Here
Slide 3 Heading
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipiscing elit dolor
Click Here